Jalan Agar Anda dan Pasangan Langgeng Harmonis Setelah Punya AnakÂ

Jalan Agar Anda dan Pasangan Langgeng Harmonis Setelah Punya AnakÂ

Cara Agar Anda dan Pasangan Tetap Harmonis Setelah Punya Anak 

Memiliki bahan hati menjadi anugerah sekaligus tantangan tersendiri bagi pasangan yang perdana saja menjalin rumah tangga. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG. COM   –  Mempunyai buah hati menjadi anugerah sekali lalu tantangan tersendiri bagi pasangan yang baru saja menjalin rumah tangga. Setelah seorang bayi mungil jadi di tengah-tengah Anda berdua, perintah dan kewajiban masing-masing pasangan jadi suami istri mungkin tampak menjelma samar.

Sebagai seorang ibu baru, Anda mungkin mengalami dilema antara menyelenggarakan tugas harian Anda seperti membakar, membersihkan rumah dan bahkan berjalan dengan mengurus anak.  

Tentunya, anaklah yang menjadi prioritas utama untuk Anda!

Perubahan hormon dan rutinitas tidur ketika memiliki si kecil menuntut Anda dan pasangan buat lebih bisa bekerjasama.

Namun kadang, mempunyai bayi kecil di rumah bisa jadi tantangan dan bahkan sekatan, apabila Anda dan pasangan tidak bisa saling mengungkapkan perasaan dan sadar akan perubahan peran yang signifikan ini.

Berikut cara agar Kamu dan pasangan tetap  harmonis dan jauh dari konflik rumah tangga  walau setelah kehadiran si mungil di rumah dilansir Telegraph UK.

1. Lupakan kata ‘nanti’

Kira-kira terbaik bagi suami untuk menghindari kata “nanti”  sepenuhnya, menurut psikoterapis Jean Fitzpatrick. Ini adalah sebutan yang sangat mengejutkan ibu, katanya karena ketika memiliki bayi, para-para ibu cenderung menjadi orang porakporanda orang yang melakukan tugasnya dengan sangat cepat melibatkan tenggat periode yang ketat.

2. Penggunaan prawacana ‘saya’ dan ‘kamu’

Ketika suatu isu muncul, pilihlah kata ‘saya’  yang kemudian diikuti ‘kamu’,   saran   konselor pasangan suami istri, John dan Julie Gottman. Mengatakan “Saya merasa terbebani dan berharap kamu yang membereskan rumah” lebih diperhatikan dibanding  “Kamu tuh tidak pernah mencuci piring”,   yang membuat pasangan Anda bersikap defensif dan marah.  

Jelaskan apa yang terjadi tanpa penilaian (hadapi masalah, bukan orangnya’ untuk memakai bahasa konselor). Nyatakan dengan sahih apa yang Anda butuhkan, menghargai peran Anda dalam argumen, apalagi jika itu kecil, dan jika Anda berulang kali bentrok di dalam sebuah isu, sebuah pertanyaan sederhana dapat dipecahkan ke inti masalahnya: mengapa ini penting bagi Anda?

3. Libatkan pasangan

Kadang, para-para ibu merasa bisa melakukan order yang lebih baik dari pasangannya. Para ahli psikologi menyebutnya ‘maternal gatekeeping’ – mengkritik atau membina ayah tidak terlibat dalam pembelaan harian bayi, yang dapat menyusun sang ayah menjadi ragu serta merasa tidak becus jadi ayah.

Tidak perlu mengkritik pasangan jika ia tidak bisa memakaikan popok secara benar. Atau ketidakmampuan ia membuang kotoran bayi. Libatkan suami Kamu apapun dalam urusan rumah tangga dan bayi tanpa harus mengkritiknya. Pujilah sesekali atau berterima kasihlah jika perlu.

4. Bagi tugas dengan jelas

Bagi tugas Kamu dan pasangan dengan jelas. Kala sulit membuat pria berinisiatif terlebih akan tugas – tugas dengan sebelumnya tidak pernah dilakukannya. Katakan dengan jelas dan buat kesepakatan bersama terkait siapa yang membersihkan kamar hingga urusan membeli keinginan rumah tangga Anda saat jiwa kecil hadir dalam keluarga mungil Anda.

5. Kencan berdua

Luangkan waktu Anda untuk berdua. Kadang ketika baru pertama kali mempunyai anak, pasangan muda terlalu pokok pada anak hingga melupakan pernikahan mereka.

Ambilah waktu sepuluh menit di akhir hari untuk membicarakan sesuatu —  apapun —  kecuali mengenai anak kami, penjadwalan logistik, & uang.

(dea / wida)

Rekomendasi